UK Transition Course: Week 2

Do not worry! You are not aiming for the Nobel Prize! You “just” need to write a doctoral thesis!”

Lynne Newcombe, 2022

Penulis di depan Sheffield Town Hall

Tanpa terasa kami memasuki minggu kedua di sini transition course. Pada minggu ini, topik nya adalah memulai kontak dengan potential supervisor dan bagaimana strategi untuk mengontaknya. Alright, mungkin ini juga menjadi refleksi bagi diri saya sendiri yang hampir 2 tahun terakhir aplikasi PhD yang tidak kunjung tembus juga.

Senin, October 31, 2022, kami memulai Classes dengan penuh semangat walau ngos-ngosan sedikit hehe. Penyebabnya karena kontur jalan di Sheffield ini naik turun, berbukit-bukit. Nah, kebetulan lodging kami, St. Vincent Place terletak di tempat yang cukup tinggi, say di atas bukit lah. Ketika kami berangkat, jalannya masih enak, turunan ke English Language Training Center. Tapi ketika pulang alamaaak, mendaki gunung lewati lembah hehe 🙂

Hari senin kami memulai materi dengan “PhD Skills”. Setelah minggu kemarin di sini kami diberikan lebih banyak materi soal motivasi, hari ini kami diberikan materi tentang skill set yang harus dimiliki oleh mahasiswa PhD. Satu hal yang barangkali masih belum begitu common di Indonesia, khususnya di bidang social science terkait dengan Ethics. Yes, di berbagai kampus di luar negeri rata-rata mereka sudah memiliki komite etik tersendiri, yang berfungsi sebagai filter jika penelitian kita melibatkan subyek manusia, maka harus ada consent form, kemudian persetujuan juga dari komite etiknya.

Kemudian juga kami diberikan pemahaman bahwa mencari supervisor di UK, jangan terlalu silau dengan gelar Profesor. Mungkin karena itulah di sini, pun ketika di Swedia dulu, kami tidak pernah memanggil dosen dengan sebutan doktor atau profesor. Something weird probably. Mereka lebih suka dipanggil langsung nama, dan selayaknya posisi mereka seperti rekan kerja. Karena Yang terpent Bukanlah Title professor itu sendiri, namun bagaimana kontribusi akademis seseorang dan justru itulah di sini mereka akan dihargai.

Di Sheffield sendiri PhD sekitar 3-3.5 tahun, dan tahun terakhir atau semester terakir mereka menamakan writing period atau nullis “doang” thesis. Hehe, tidak “doang” karena ternyata menulis akademik tidak mudah, bahkan bisa membutuhkan waktu satu tahun sendiri. Good news nya di sini, tidak ada ketentuan harus publikasi, pun juga umumnya univeristas di Inggris tidak mensyaratkan untuk kelulusan. Namun, supervisor ada juga yang tetap akan meminta publikasi, dan justru sebenarnya dengan publikasi akan membentu kita saat sidang VIVA bahwa penelitian ini sebenarnya sudah diterima.

Esoknya, hari Selasa kami mendapat materi soal prose pencarian supervisor di Sheffield. Satu hal yang bagi kita kabar baik di sini, adalah saat tutor kami berkata bahwa kita harus opportunis dan open terhadap berbagai macam peluang yang ada, bahkan tidak hanya di Sheffield. Berikut beberapa dantips yang direkomendasikan meliputi website:

  • Jobs.ac.uk
  • Find a PhD website
  • Academic Twitter: Maksudnya di sini adalah banyak sekali univeristas atau bahkan profesor itu yang punya akun twitter, dan tak jarang mereka publication opportunity till PhD dengan mereka itu di twitter
  • Literature path: Nah, kalau ini kita melihat siapa yang menulis jurnal, kemudian googling kontaknya.
  • Lecture: Kalau dapat kesempatan ini, sebar kartu nama, tutor bahkan saya berkata dia bertemu dengan supervisor nya juga co-incidentally, saat dia round table di lecture, dan salah satu dosen tertarik dengan risetnya.

Oke deh, karena sudah ada lampu hijau mencari tidak hanya di Sheffield, saya pun sudah memiliki list lama yang dulunya sempat saya e-Mail, ada yang ngacangin wkwk T_T, dan seterusnya, maka saya pun menyebar eMail tersebut, seraya mengatakan bahwa saya sedang di United Kingdom, dan ingin bertemu face to face. Hitung2 juga sekalian jalan-jalan ke kota lain dong hehe 🙂

Hari rabu, kami mendapatkan materi tentang tips untuk meng-email supervisor. Alright, ada beberapa advice ternyata, alih-alih kita harus merendahkan hati di eMail kita, ternyata kita justru harus seize the opportunity until “menjual diri”.

“Your supervisors might learn from you, and you will learn from them. Sometimes they take you on not because they are more expert than you, but because they want to learn from you and do multidisciplinary research with you.

Evdokia Valiou, 2022

Hal yang saya sangat respectful di sini adalah egaliternya sistem pendidikan di sini. Bahwasanya para supervisor pun tidak menempatkan diri seolah-olah paling pandai, namun mereka juga ingin belajar dari kita sebagai PhD student nya.

Oke, kemudian balik lagi ke advice eMail. Nah ini juga yang saya baru sadari. Untuk E-Mail pertama dulu saya sing terbiasa langsung mengirim CV dan Proposal. Tapi, justru ini akan menjadi potential technical fault. Yup, terkadang ada beberapa universitas yang bila continueima eMail asing yang belum pernah eMail sebelumnya, entah dari mana domainnya, kemudian melampirkan dokumen, maka email langsung dianggap SPAM! Naah, jangan-jangan ini juga yang menyebabkan email-email saya sebelumnya tidak ada balasan.

So, gimana dong sebaiknya? Nah, untuk email pertama, kirim tanpa dokumen. Tunjukkan pengalaman kita, ketertarikan riset kita sama beliau, juga jelaskan dan beri lien doi jurnal jika kita memang sudah pernah publikasi sebelumnya. In summary, di email pertama kita, setidaknya ada 3 alasan untuk meng-Email calon supervisor ini:

  • Do they accept supervisees?
  • Are they interested in hiring you?
  • Is the project open to you? (with/without funding)
  • If the project indicates funding for the UK, let them know you have government funding.

Then, on Thursday, kita dapat materi soal academic presentation. Alright kalau soal speaking, saya paling melek ini waktu kelas hehe 🙂 (bukan berarti aku ngantuk ya guys no kelas lainnya -_______-). Hari ini juga kami diberikan contoh bagaimana melakukan presentasi dan apa yang dinamakan “Elevator Pitch”. Singkatnya bayangkan tiba-tiba kita bertemu supervisor di elevator (what is possible nya keciiiiil bangeettt hehe), lalu kita harus ngomong apa? In general, intinya kita akan mencoba convince mereka agar bisa ketemu di waktu yang lain untuk berdiskusi lebih lanjut. Walaupun di dunia nyata belum tentu berhasil juga, tapi setidaknya di sini kami belajar untuk mencoba meyakinkan seseorang dalam waktu yang kurang lebih singkat.

Hari itu juga kami mendapat pe-er untuk membuat pitch singkat, dan hari jum’at, kami presentasi satu-satu dong, dengan background Elevator di PPT Slide, biar kelihatan kaya lift. It was a really fun session, and hopefully we’ll have more sessions to showcase something. Finally, sampai juga di weekend dan waktunya rehat sejenak ke Edensor. See you on the next post! 🙂

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*