UK Transition Course: Week 1

“Before you start your PhD, it might be a good idea for you to try to reflect on your life journey, which ultimately leads you to a PhD.

Quote ini saya catat tepat di hari kedua, saat membaca asynchronous materials yang dibagikan kepada kami saat menjalani Bridging ini secara online. Well, kalau dipikir-pikir panjang juga memang prosesnya hingga hari ini saat saya sampai di sini. Mulai dari dahulu saat fight mencari beasiswa hingga saya tulis jatuh bangunnya di sini sampai 12 episode (tenang, ndak bakal ngalahin sinetron tersanjung, atau cinta fitri kok banyaknya, hehe). Sampai masa-masa saat menyelesaikan S2 yang pernah saya tuliskan di sini, walau akhirnya ceritanya di situ pada waktu itu niatnya bersambung sampai akhirnya tidak ada sambungannya sama sekali wkwkw. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu saya menceritakan proses mengikuti seleksi Bridging Course 2022. Well, saya akan coba menuliskan sedikit ilmu yang saya peroleh selama di sini selama beberapa minggu ke depan, semoga istiqomah untuk saya-nya, dan bermanfaat untuk semua yang membaca ya 🙂

Well, di minggu pertama ini kami melaksanakan secara program online, dikarenakan di minggu ini kami menempuh perjalanan ke UK. Tepatnya tanggal 27 Oktober 2022. Sesi pertama saat itu hari Senin, 24 Oktober 2022, berlangsung via Google Meet bersama tutor kami, Lynne Newcombe, yang merupakan Direktur dari English Languange Training Center (ELTC) di University of Sheffield.

Pada pertemuan itu kami lebih dijelaskan soal overview of the course dan silabus selama sekitar 2 bulan mengikuti program ini. Di akhir program, ekspektasinya adalah kami semua akan mempresentasikan proposal riset kami dalam bentuk post, so it’s a bit Academic posters. Selain itu, kami juga diwajibkan mengisi diary of reflection setiap minggu nya, kira-kira seminggu itu sudah dapat apa saja, dan sebenarnya hal ini juga melatih kami nantinya sebagai mahasiswa PhD, untuk membuat semacam ini untuk dapat merefleksikan progress dari S3 itu sendiri. Kemudian juga akan ada sesi one against one dengan Lynne setiap minggunya untuk mengecek progress “PDKT” dengan calon supervisor.

Di sesi ini kami juga diminta untuk menuliskan refleksi terkait mengapa kami ingin melakukan PhD, juga kami diminta menuliskan kira-kira latar belakang diri kami seperti apa, keluarga, pertemanan, pendidikan dan seterusnya. Yang awalnya saya bertakon-takon hehe, untuk apa juga ya hal-hal seperti ini diingat lagi, bukankah anak muda seperti kami-kami ini menawarkan masa depan dan melakukan masa lalu (hiliih wkwkwk).

Rasa penasaran saya tersebut akhirnya terjawab esok harinya saat saya membaca materi asynchronous.

Wellington et al (Succeeding with your doctorate, 2011) suggest that researchers could reflect on some or all of the following aspects of their lives in order to understand their underlying motivations for undertaking doctoral studies.”

Yes, pada hari berikutnya saya membaca materi yang berjudul “Positionality”. Intinya, keputusan seorang searcher dalam mengambil keputusan-keputusan di penelitian atau project yang dilakukannya, somehow akan terpengaruh dari latar belakang kehidupannya, identitas diri, serta hubungan dia dengan orang lain. Nah kita mestinya hati-hati dong, karena ini bisa berpotensi menghasilkan “Self Bias”, dan justru “Self Bias” ini seringkali terjadi tanpa kita sadari dong :).

Karena itulah ternyata menulis “Reflective Journal” atau semacam “diary” untuk seorang PhD Student bisa dibilang penting juga hehe, karena menurut tutor kami, selain untuk mendokumentasikan catatan perjalanan riset, membiasakan diri untuk menulis, juga bahkan bisa dijadikan inspirasi untuk mengambil keputusan-keputusan dalam penelitian hehe. Ada juga salah satu senior saya di Manchester yang lagi PhD, beliau juga membuat semacam progress harian, baca literature, aktivitas apa yang dilakukan dst. Well, sepertinya perlu juga kali ya bikin gini buat selama jadi dosen, udah ngapain aja hari itu, buat melecut diri biar produktif juga kali ya, kira-kira banyakan ngajarnya, neliti-nya, atau malah kerjaan administrative-nya hehe, ups…

Hari selanjutnya saya waktu itu sangat hectic dengan seminar proposal, karena kejar setoran supaya anak bimbingan saya beres sebelum saya berangkat, juga mendampingi proses audit halal dari LPPOM MUI, salah satu pengabdian masyarakat saya semester ini di Kantin Pusat ITS. Sampai-sampai hari itu saya lupa dong kalau ada anak bimbingan yang ujian =)), akhirnya setelah di telpon langsung ngebut ke jurusan hehe. Sembari menyiapkan berbagai hal karena sudah H-1 keberangkatan, beres-beres packaging dst, saya menyempatkan membuka materi asynchronous hari itu.

Summary, note taking and presentation. Yeah, salah satu essential skills dari mahasiswa S3 sudah tentu belajar menyimpulkan. Betapa banyak wealthy Literature yang akan dibaca serta kita akan menuangkan kembali ke dalam tulisan disertasi kita, tentu saja dengan mem-paraphrase nya supaya tidak plagiarism. Selain itu juga hari itu saya melihat contoh bagaimana cara presentasi yang baik. Kami diberikan contoh seorang mahasiswa doktoral saat mengikuti kompetisi thesis doktoral, dan bagaimana dia melakukan throw hanya dalam 3 menit saja untuk menjelaskan apa yang dilakukan dalam risetnya. Juga kami mendapatkan materi tentang bagaimana seharusnya membuat PPT presentasi yang baik.

Finally, di hari Jum’at minggu pertama ini, kami akhirnya bertemu face to face di kelas. Materi hari itu tentang Critical mind. Oops, tentu saja ini penting, sebab saat studi PhD, dituntut untuk menghasilkan hal yang baru, menemukan celah dari literatur-literatur sebelumnya, serta berdiskusi dan berargumen baik dengan teman seperjuangan PhD, supervisor dengan, maupun nanti saat final defense dengan examiner.

Oke guys, tadinya mau langsung nullis soal apa yang sudah saya dapat di 3 minggu terakhir ini tapi ternyata panjang juga hehe :). So, see you on the next article!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*